Profil

Sejarah Singkat SD Islam Pembangunan


Yayasan Syarif Hidayatullah tengah melebarkan sayapnya untuk membuat sekolah baru dengan konsep berbeda dari Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Bertempat di Pamulang, Tangerang Selatan Jum'at (22/11). Peletakan batu pertama pembangunan gedung sekolah yang diberi nama Sekolah Dasar Islam Pembangunan (SDIP), dihadiri oleh wakil walikota Tangerang Selatan, ketua Yayasan Syarif Hidayatullah, ketua Dewan Pengawas, ketua Tim Pelaksana Persiapan Pendirian SDIP, direktur Madrasah Pembangunan, dan seluruh pimpinan di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta.

Pada kesempatan tersebut, wakil Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie memberikan sambutan hangat terhadap rencana pembangunan SDIP. Dalam pidatonya, beliau mengatakan bahwa SDIP dengan konsep berkarakter, modern​, dan inklusif merupakan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia ke depan.

Beliau membayangkan Tangerang Selatan pada 2030 mendatang, akan terjadi lonjakan pertumbuhan penduduk usia produktif. Dalam menyikapi potensi penduduk Tangerang Selatan, beliau berpendapat bahwa hal yang dibutuhkan adalah infrastruktur pendidikan, dan beliau melihat SDIP akan menjadi salah satu sumber infrastruktur yang tersedia di kota Tangerang Selatan.

“Kami berharap akan lahir ilmuwan, pemimpin, manajer,​ Event Organizer​, dan menjadi apa pun yang dibekali dengan ilmu dunia dan akhirat. Mereka punya karakter sebagai anak bangsa dan umat Islam yang lurus dan tidak menyimpang.” ujarnya.

Ketua Yayasan Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Murodi, M.Ag. mengatakan, awal mula tercetusnya SDIP adalah ketika terjadi pembicaraan singkat dengan wali murid TK MP, berbagai masukan datang agar Yayasan segera membuat Sekolah Dasar agar alumni TK MP tidak terlalu jauh.

Atas dasar tersebut dan dari diskusi-diskusi antar pimpinan, tercetuslah Sekolah Dasar Islam yang mengadopsi nama Pembangunan. “Ciri khas SDIP adalah jumlah mata pelajarannya sedikit, 4-5 mata pelajaran sehari agar peserta didik enjoy​ di sekolah. Kegiatan lainnya adalah sosialisasi, shalat berjamaah, sisanya diisi dengan ekstrakurikuler atau kegiatan keagamaan.” Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa SDIP merujuk pada sistem pendidikan di Swiss, Eropa, Jerman, Inggris, Jepang yang jumlah pelajarannya sedikit, tapi fokus.